Agen apapun itu pasti sudah banyak sekali di sekitar kita. Mulai dari agen PRT, tiket bis, pesawat, kapal, makelar produk sampai pengurusan dokumen seperti KTP, SIM, STNK, BPKB, akte kelahiran, peijinan rumah, perusahaan dll . Untuk agen yang bekerja memproses dokumen milik pribadi biasanya hanya berupa agen yang bersifat invidual dengan kata lain "calo". Sedangkan untuk yang kelasnya perusahaan bisa dalam bentuk badan atau lembaga resmi. Seringkali di sini ketemu dengan orang yang kerjaan sambilannya ngurusin dokumen seperti notaris atau pegawai pemerintah yang mendirikan sebuah agen resmi. Yah, apapun istilahnya pada dasarnya agen itu produknya adalah jasa. Untuk mendapatkan jasa dari orang lain, agen harus pintar dulu merayu si orang itu untuk menggunakan jasa mereka. Tidak heran jika sepertinya lebih banyak pegawai agen yang perempuan daripada laki-laki, karena lebih "luwes" katanya.
Kenapa sih saya repot-repot menulis soal agen di sini? Terus terang, jadi sensi banget kalo dengar kata "agen". Karena baru-baru ini saya "dikerjai" agen untuk mengurus dokumen perijinan tenaga kerja asing (visa telex). Agen ini referensi dari manager saya yang sudah mengenalnya selama kurang lebih 7 tahun, meskipun bekerja jarak jauh Semarang-Jakarta, ini agen bisa dihandalkan dan dipercaya. Tetapi tidak untuk tahun ini. Proses 3 macam dokumen bisa diselesaikan dalam waktu 3-4 minggu, tapi sampai minggu keenam belum juga ada kabar darinya. Sangat sulit dihubungi mulai dari telpon, sms, email, dan akhirnya sampai saya harus mengecek sendiri di kantor dinas jakarta. Sayang, jawaban yang tidak memuaskan didapat. Malah ditawari jasa oleh petugas yang menjawab telpon saya.
Dengan kondisi yang serba dateline, karena TKA itu harus segera berangkat ke singapore, persiapan tiket, hotel, pengurusan visa di kedutaan, hampir putus asa rasanya karena tidak mendapat kabar dari agen. Apakah saya harus menyusul ke jakarta atau buat perpanjangan visa selama di Semarang? Jawabannya ternyata saya mendapat telpon dai dirjen imigrasi Jakarta yang mengabarkan bahwa visa telex sudah selesai dan bisa diambil. Kami berbincang-bincang sejenak tentang keadaan antara saya dan agen itu, dan dari petugas itu dapat informasi baru bahwa saya bukanlah korban yang pertama. Perusahaan juga sudah membayar tagihan dokumen itu ke agen dan pihak dirjen imigrasi belum menerimanya. Modus seperti itu rupanya yang si agen ini kerjakan. Hanya submit dokumen dan meninggalkannya begitu saja. Mau tak mau perusahaan yang memakai jasa si agen harus turun lapangan sendiri dan membayar lagi keperluan administrasinya.
Saat itu saya hanya merasa kecewa, jengkel tetapi agen ini tidak pernah saya bisa hubungi. Bagaimana bisa dia mempermainkan dan mempertaruhkan kepercayaan pelanggannya dengan cara seperti ini? Tidak banyak uang yang dilarikannya, tetapi kepercayaan yang besar itulah yang telah dia rusak sendiri.
Berhati-hatilah bekerja sama dengan agen. Yakinkan benar bahwa agen itu bisa dipercaya. Dapatkan referensi dari perusahaan besar yang menggunakan jasa yang sama, karena ini pertanda bahwa mereka melayani dengan profesional. Hati-hati dengan agen yang sifatnya perorangan. Susah dilacak jika sudah hilang kontak.
Untuk bapak agen, saya yakin kepercayaan pelanggan yang telah bapak dapatkan selama ini tentunya tidaklah mudah. Bapak harus berjuang keras mendapatkan kepercayaan itu dan berjuang keras untuk mempertahankannya agar kami sebagai pelanggan selalu mencari bapak untuk menggunakan jasa agensi bapak. Mengapa bapak harus kehilangan kepercayaan ini? Bukankah kepercayaan itu modal utama untuk melanjutkan bisnis yang menjual jasa? ...
Masih mencari ini blog tentang apa, sementara (atau bisa jadi selamanya), tema tulisan di blog ini "mix-theme" alias campur-campur, mulai dari opini pribadi, kritik, uneg-uneg, re-post artikel, tips, resep, macem-macemlah. Seperti isi resoles.
Friday, April 23, 2010
Thursday, April 08, 2010
Menulis di atas pasir
Re-posted dari blog lain.
Terima kasih inspirasinya dan semoga bermanfaat.
Posted by: "Mohamad Yunus" yunus@widatra.com
Wed Apr 7, 2010 9:40 pm (PDT)
Ini adalah sebuah kisah tentang dua orang suami istri yang sedang berjalan melintasi gurun pasir.
Dî tengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras.....
Istri yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis ϑî atas pasir :
HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi.
Si Istri, mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan suaminya. Ketika dia
mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis dî sebuah batu :
HARI INI SUAMIKU YG BAIK MENYELAMATKAN NYAWAKU
Suami bertanya : “kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya dî atas pasir dan sekarang
kamu menulis dî atas batu ?”
Istrinya sambil tersenyum menjawab :
“Ketika hal buruk tjd, kita harus menulisnya dî atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan
menghapus tulisan itu..
Dan bila sesuatu yang luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya dî atas batu hatiku, agar
tidak bisa hilang tertiup angin.
Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Terkadang
malah sangaatt menyakitkan, Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.
Yang terpenting dr pelajaran dî atas, adalah : Belajarlah untuk selalu BISA MENULIS DI ATAS PASIR
untuk semua hal yang menyakitkan dan selalu MENGUKIR DI ATAS BATU untuk semua KEBAIKAN ....
Semoga kita semua mengerti betapa berharganya sebuah " KELUARGA" :)
Terima kasih inspirasinya dan semoga bermanfaat.
Posted by: "Mohamad Yunus" yunus@widatra.com
Wed Apr 7, 2010 9:40 pm (PDT)
Ini adalah sebuah kisah tentang dua orang suami istri yang sedang berjalan melintasi gurun pasir.
Dî tengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras.....
Istri yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis ϑî atas pasir :
HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi.
Si Istri, mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan suaminya. Ketika dia
mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis dî sebuah batu :
HARI INI SUAMIKU YG BAIK MENYELAMATKAN NYAWAKU
Suami bertanya : “kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya dî atas pasir dan sekarang
kamu menulis dî atas batu ?”
Istrinya sambil tersenyum menjawab :
“Ketika hal buruk tjd, kita harus menulisnya dî atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan
menghapus tulisan itu..
Dan bila sesuatu yang luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya dî atas batu hatiku, agar
tidak bisa hilang tertiup angin.
Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Terkadang
malah sangaatt menyakitkan, Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.
Yang terpenting dr pelajaran dî atas, adalah : Belajarlah untuk selalu BISA MENULIS DI ATAS PASIR
untuk semua hal yang menyakitkan dan selalu MENGUKIR DI ATAS BATU untuk semua KEBAIKAN ....
Semoga kita semua mengerti betapa berharganya sebuah " KELUARGA" :)
Apa Kata Dunia...
Duh. Gemes rasanya kalau ingat iklan ini. Iklan yang menayangkan bahwa jika hari gini ga bayar pajak, apa kata dunia... Tetapi setelah terungkap dengan kasus penggelapan uang pajak dan restitusi pajak dari salah satu seorang pegawai pajak, bukan main kecewanya. Tidak hanya kecewa, tetapi juga marah. Marah yang besar. Bagaimana bisa hal seorang pegawai pajak malah mengkorupsi pajak??? Apa kata dunia....?
Biasa? Iya, hal ini dikatakan adalah hal biasa yang dilakukan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab. Bahkan nilai nominalnya pun berkali lipat daripada jumlah yang terungkap. Wow...
Dari sini, dapat kita pelajari bahwa sistem pengawasan internal di kantor pajak tidak seketat pengawasannya kepada wajib pajak. Jika tidak bayar pajak, wajib pajak kena denda. Lalu bagaimana dengan petugas pajak sendiri? Wajib pulakah mereka melapor kekayaan dan "bayar pajak"? Lalu, bagaimana dengan ganjaran buat mereka yang saat ini ketahuan menggelapkan pajak? Berapa milyar uang yang mereka "ambil" dari pihak yang semestinya dapat menerima dan menggunakan uang itu demi menyambung hidup mereka?
Masih banyak yang harus kita benahi, tetapi yang paling penting adalah benahi diri, jasmani dan rohani, jiwa raga, pikiran dan perasaan. Sifat tamak, rakus, greedy telah menguasai mereka untuk memuaskan nafsu hedonis. Sekali coba, pasti ketagihan. Tetapi, hidup mereka tidak akan pernah tenteram. Batin dan jiwa mereka akan selalu mengenang dan mengenang perbuatan mereka dan selalu berpikir bagaimana caranya menyembunyikan sumber kegelisahan sepanjang hidupnya. Sungguh kejam. Tapi itu layak mereka dapatkan. Sempat terdengar selentingan orang berbicara ketika saya sedang dalam perjalanan ke Solo, bahwa kalangan rakyat biasa sibuk memikirkan bagaimana cara menyambung hidup di kemudian hari. Dan para "maling" uang rakyat sibuk sembunyi dan berdiam diri, menunggu ketakutan mereka terealisasi dengan baik. Sungguh lelah pastinya.
Dan saya pikir, mereka ada benarnya. Apa kata dunia...
Biasa? Iya, hal ini dikatakan adalah hal biasa yang dilakukan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab. Bahkan nilai nominalnya pun berkali lipat daripada jumlah yang terungkap. Wow...
Dari sini, dapat kita pelajari bahwa sistem pengawasan internal di kantor pajak tidak seketat pengawasannya kepada wajib pajak. Jika tidak bayar pajak, wajib pajak kena denda. Lalu bagaimana dengan petugas pajak sendiri? Wajib pulakah mereka melapor kekayaan dan "bayar pajak"? Lalu, bagaimana dengan ganjaran buat mereka yang saat ini ketahuan menggelapkan pajak? Berapa milyar uang yang mereka "ambil" dari pihak yang semestinya dapat menerima dan menggunakan uang itu demi menyambung hidup mereka?
Masih banyak yang harus kita benahi, tetapi yang paling penting adalah benahi diri, jasmani dan rohani, jiwa raga, pikiran dan perasaan. Sifat tamak, rakus, greedy telah menguasai mereka untuk memuaskan nafsu hedonis. Sekali coba, pasti ketagihan. Tetapi, hidup mereka tidak akan pernah tenteram. Batin dan jiwa mereka akan selalu mengenang dan mengenang perbuatan mereka dan selalu berpikir bagaimana caranya menyembunyikan sumber kegelisahan sepanjang hidupnya. Sungguh kejam. Tapi itu layak mereka dapatkan. Sempat terdengar selentingan orang berbicara ketika saya sedang dalam perjalanan ke Solo, bahwa kalangan rakyat biasa sibuk memikirkan bagaimana cara menyambung hidup di kemudian hari. Dan para "maling" uang rakyat sibuk sembunyi dan berdiam diri, menunggu ketakutan mereka terealisasi dengan baik. Sungguh lelah pastinya.
Dan saya pikir, mereka ada benarnya. Apa kata dunia...
Wednesday, April 07, 2010
Semua pasti ada hikmahnya
Hari ini saya melihat seorang teman di kantor yang sedang bersedih. Tampak diraut mukanya bahwa ia baru saja menangis tersedu-sedu di toilet (tentunya). Dia berusaha tegar namun saya yang merasa dekat dengannya dapat tahu apa yang sedang dia rasakan.
Dia adalah seorang istri dan punya 2 anak. Dia salah satu karyawan yang menjadi peserta "babat alas" sewaktu awal tahun berdirinya pabrik kami. Dengan dedikasinya dia berusaha total bekerja dan pernah menjadi the best chief di office kami pada waktu ajang award di kantor. Sampai akhirnya dia mendapat tawaran bekerja di tempat lain yang lebih bonafid, bergengsi dan dengan salary 2 kali lipat dari yang dia dapat saat ini. Tetapi, ketika itu dia cerita bahwa dia hanya ingin menguji kompetensi dirinya, apakah dia masih bisa "dihargai" lebih dan tidak bermaksud untuk pindah dari pabrik ini karena sudah timbul rasa "memiliki". Dan hasilnya, setelah melakukan diskusi dan pemikiran, dia tetap memilih stay di tempat dan tidak mengambil kesempatan itu
Sekitar 2 minggu kemudian, tepatnya hari ini, perasaan kecewa yang begitu besar, merasa dikhianati dan akhirnya merasa pengorbanannya sia-sia karena telah melepaskan kesempatan yang luar biasa membuat dia sedih dan menangis karena merasa "tidak dihargai". Jauh dilubuk hatinya, mungkin ada rasa penyesalan.
Kemudian, saya hanya mengatakan bahwa ini adalah ujian utuk keputusan yang telah dia ambil dulu. You decide it, you'll get a risk. Sometime its good, sometime its bad. Harapan vs realitas, tidak pernah match. Tetapi perlu diingat bahwa mereka yang mengecewakan dirinya adalah orang-orang yang tidak tahu sejarah dan seberapa besar rasa memiliki yang dia rasakan untuk perusahaan kami. Mereka tidaklah penting. Karena tidak sepaham dan sevisi dengan dirinya.
Saya hanya salut dengan teman yang satu ini, rasa memilikinya yang begitu besar dan dedikasinya selama di perusahaan, telah membuat ia memilih untuk stay di sini. Meskipun, satu dua pihak yang "tidak suka" dengannya, dia memilih tetap di tempatnya. Rasa memiliki yang tidak dipahami orang lain, tidak membuatnya gentar, meskipun hari ini ada rasa penyesalan di dalam dirinya.
Selalu ada hikmah di balik peristiwa...
Dia adalah seorang istri dan punya 2 anak. Dia salah satu karyawan yang menjadi peserta "babat alas" sewaktu awal tahun berdirinya pabrik kami. Dengan dedikasinya dia berusaha total bekerja dan pernah menjadi the best chief di office kami pada waktu ajang award di kantor. Sampai akhirnya dia mendapat tawaran bekerja di tempat lain yang lebih bonafid, bergengsi dan dengan salary 2 kali lipat dari yang dia dapat saat ini. Tetapi, ketika itu dia cerita bahwa dia hanya ingin menguji kompetensi dirinya, apakah dia masih bisa "dihargai" lebih dan tidak bermaksud untuk pindah dari pabrik ini karena sudah timbul rasa "memiliki". Dan hasilnya, setelah melakukan diskusi dan pemikiran, dia tetap memilih stay di tempat dan tidak mengambil kesempatan itu
Sekitar 2 minggu kemudian, tepatnya hari ini, perasaan kecewa yang begitu besar, merasa dikhianati dan akhirnya merasa pengorbanannya sia-sia karena telah melepaskan kesempatan yang luar biasa membuat dia sedih dan menangis karena merasa "tidak dihargai". Jauh dilubuk hatinya, mungkin ada rasa penyesalan.
Kemudian, saya hanya mengatakan bahwa ini adalah ujian utuk keputusan yang telah dia ambil dulu. You decide it, you'll get a risk. Sometime its good, sometime its bad. Harapan vs realitas, tidak pernah match. Tetapi perlu diingat bahwa mereka yang mengecewakan dirinya adalah orang-orang yang tidak tahu sejarah dan seberapa besar rasa memiliki yang dia rasakan untuk perusahaan kami. Mereka tidaklah penting. Karena tidak sepaham dan sevisi dengan dirinya.
Saya hanya salut dengan teman yang satu ini, rasa memilikinya yang begitu besar dan dedikasinya selama di perusahaan, telah membuat ia memilih untuk stay di sini. Meskipun, satu dua pihak yang "tidak suka" dengannya, dia memilih tetap di tempatnya. Rasa memiliki yang tidak dipahami orang lain, tidak membuatnya gentar, meskipun hari ini ada rasa penyesalan di dalam dirinya.
Selalu ada hikmah di balik peristiwa...
Sunday, March 28, 2010
Freshgrad oh Freshgrad....
Fresh graduate alias freshgrad alias fresh from the oven alias baru lulus pendidikan jenjang universitas. Istilah ini begitu "keren" sehingga melekat ke semua lulusan universitas yang baru saja diwisuda dan sedang mencari pekerjaan dengan sebutan keren lain, "job seeker".
Label freshgrad digunakan untuk membedakan para lulusan/alumnus yang belum mendapatkan pekerjaan atau belum pernah memiliki pengalaman bekerja, dengan para lulusan yang sudah memiliki pengalaman bekerja paling tidak 0-1 tahun pertama.
Pada pihak pengusaha, calon pekerja yang freshgrad identik dengan semangat idealisme yang tinggi, minim pengalaman, dapat "dibentuk" dan "dibayar" murah karena yang terpenting "bisa dapat kerja". Tidak mengherankan ketika freshgrad masuk ke perusahaan, mereka akan didoktrin sedemikian rupa sehingga dapat menjadi karyawan yang sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Pada pihak freshgrad sendiri, memang cenderung idealisme, harus "match" antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan, mendapat gaji yang "pantas" meskipun untuk hal ini masih belum jelas. Antara realita dan harapan bagi kalangan freshgrad terkadang begitu "njegleg". Itu yang saya alami sekitar 3 tahun lalu. Saat ini, saya menghadapi bermacam-macam pertanyaan dari saudara sepupu saya yang sedang menjadi "freshgrad & jobseeker".
Bersyukur saya mendapat pekerjaan yang tidak melenceng dari jenjang pendidikan, tetapi dengan bertambahnya waktu saya mengambil kesempatan lain yang benar-benar baru dan banyak hal menarik. Istilah kerennya tambah pengalamanlah. Modal kerja dikemudian hari kan pengalaman kerja. Ada yang menarik, bahwa saat ini perusahaan cenderung memilih orang belum tentu memiliki pengalaman serupa, akan tetapi mencari orang dengan cara berpikir yang sekiranya akan sama dengan visi dan misi perusahaan. Bahkan tidak harus dengan pendidikan yang tinggi pula. Minimal Diploma dan tidak harus S1 atau S2.
Nah, kembali ke suadara sepupu saya. Dia baru saja diwisuda bulan ini dengan gelar S.Pd. bidang psikologi. Bertubi-tubi pertanyaan seputar pekerjaan dengan background psikologi. Pekerjaan yang cocok apa, harus belajar apa saja, kalo begini kalo begitu, sampai pada akhirnya dia bertanya seputar kisaran gaji intuk kalangan freshgrad. Tidak banyak tentu. Sayang, lagi-lagi harapan dan realita tidak bertemu baik. Dia sudah dipanggil beberapa kali untuk interview, mulai dari level staf rekrutmen, user 1, user 2, manager hrd dan direktur. Menurutnya perusahaan itu begitu tertarik padanya. Oke, saya setuju. Tetapi ketika dia berbicara soal gaji, saya menyadari bahwa dia masih "freshgrad", begitu tinggi mimpi idealismenya. Pada akhirnya perusahaan itu tidak memperkerjakannya dengan alasan sdang tidak butuh karyawan baru. Mustahil. Masa sudah 5 tahapan interview hasilnya demikian. Ada dua hal. Perusahaan itu tidak berniat mencari pekerja, dan kedua, sepupu saya masih "polos" dengan perlakuan seperti itu.
Dengan semangatnya yang baru, dia kembali lagi mendapat panggilan dan panggilan lainnya. Pertanyaan yang diajukan ke saya tetap sama. Berapa kisaran gaji di Jakarta untuk posisi trainer, terapis, tim konsultasi, administrasi hrd dll. Berdasarkan info dari teman, sekitar 1.5-3jt. Tetapi dengan harapan dia mematok 3.5-4jt. Semangat banget ini anak. Mungkin dia belum menyadari bahwa modal kuliah dan nol pengalaman tidak cukup meyakinkan perusahaan untuk mau membayarnya sesuai harapannya.
Freshgrad oh freshgrad...
Begitu semangatnya untuk mendapatkan pekerjaan. Begitu semangatnya untuk membuktikan dirinya mampu dan bisa dibanggakan keluarganya. Saya hanya bilang, untuk batu loncatan pertama, tidaklah kita harus idealis namun juga tidak pasrah, dalam arti yang sebenarnya asal dapat kerja. Dengan berjalannya waktu pasti dia menemukan apa yang dia cari dan bukan tidak mungkin dia berubah dengan cara berpikir dan bersikap. Menjadi lebih dewasa namun tetap semangat dan realistis (tentunya). Bukannya saya mencoba tidak mendukung semua mimpinya. Sangat mendukung. Hanya saja, be wise lah dengan realita yang ada. Dengan modal dan kemampuan yang kita miliki. Seperti orang bijak bicara, kita bisa menjadi besar jika kita melakukan pekerjaan besar atau pekerjaan kecil yang dikerjakan dengan semangat yang besar. Karena tidak mungkin pekerjaan besar dapat dilakukan dengan kesungguhan yang kecil.
Label freshgrad digunakan untuk membedakan para lulusan/alumnus yang belum mendapatkan pekerjaan atau belum pernah memiliki pengalaman bekerja, dengan para lulusan yang sudah memiliki pengalaman bekerja paling tidak 0-1 tahun pertama.
Pada pihak pengusaha, calon pekerja yang freshgrad identik dengan semangat idealisme yang tinggi, minim pengalaman, dapat "dibentuk" dan "dibayar" murah karena yang terpenting "bisa dapat kerja". Tidak mengherankan ketika freshgrad masuk ke perusahaan, mereka akan didoktrin sedemikian rupa sehingga dapat menjadi karyawan yang sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Pada pihak freshgrad sendiri, memang cenderung idealisme, harus "match" antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan, mendapat gaji yang "pantas" meskipun untuk hal ini masih belum jelas. Antara realita dan harapan bagi kalangan freshgrad terkadang begitu "njegleg". Itu yang saya alami sekitar 3 tahun lalu. Saat ini, saya menghadapi bermacam-macam pertanyaan dari saudara sepupu saya yang sedang menjadi "freshgrad & jobseeker".
Bersyukur saya mendapat pekerjaan yang tidak melenceng dari jenjang pendidikan, tetapi dengan bertambahnya waktu saya mengambil kesempatan lain yang benar-benar baru dan banyak hal menarik. Istilah kerennya tambah pengalamanlah. Modal kerja dikemudian hari kan pengalaman kerja. Ada yang menarik, bahwa saat ini perusahaan cenderung memilih orang belum tentu memiliki pengalaman serupa, akan tetapi mencari orang dengan cara berpikir yang sekiranya akan sama dengan visi dan misi perusahaan. Bahkan tidak harus dengan pendidikan yang tinggi pula. Minimal Diploma dan tidak harus S1 atau S2.
Nah, kembali ke suadara sepupu saya. Dia baru saja diwisuda bulan ini dengan gelar S.Pd. bidang psikologi. Bertubi-tubi pertanyaan seputar pekerjaan dengan background psikologi. Pekerjaan yang cocok apa, harus belajar apa saja, kalo begini kalo begitu, sampai pada akhirnya dia bertanya seputar kisaran gaji intuk kalangan freshgrad. Tidak banyak tentu. Sayang, lagi-lagi harapan dan realita tidak bertemu baik. Dia sudah dipanggil beberapa kali untuk interview, mulai dari level staf rekrutmen, user 1, user 2, manager hrd dan direktur. Menurutnya perusahaan itu begitu tertarik padanya. Oke, saya setuju. Tetapi ketika dia berbicara soal gaji, saya menyadari bahwa dia masih "freshgrad", begitu tinggi mimpi idealismenya. Pada akhirnya perusahaan itu tidak memperkerjakannya dengan alasan sdang tidak butuh karyawan baru. Mustahil. Masa sudah 5 tahapan interview hasilnya demikian. Ada dua hal. Perusahaan itu tidak berniat mencari pekerja, dan kedua, sepupu saya masih "polos" dengan perlakuan seperti itu.
Dengan semangatnya yang baru, dia kembali lagi mendapat panggilan dan panggilan lainnya. Pertanyaan yang diajukan ke saya tetap sama. Berapa kisaran gaji di Jakarta untuk posisi trainer, terapis, tim konsultasi, administrasi hrd dll. Berdasarkan info dari teman, sekitar 1.5-3jt. Tetapi dengan harapan dia mematok 3.5-4jt. Semangat banget ini anak. Mungkin dia belum menyadari bahwa modal kuliah dan nol pengalaman tidak cukup meyakinkan perusahaan untuk mau membayarnya sesuai harapannya.
Freshgrad oh freshgrad...
Begitu semangatnya untuk mendapatkan pekerjaan. Begitu semangatnya untuk membuktikan dirinya mampu dan bisa dibanggakan keluarganya. Saya hanya bilang, untuk batu loncatan pertama, tidaklah kita harus idealis namun juga tidak pasrah, dalam arti yang sebenarnya asal dapat kerja. Dengan berjalannya waktu pasti dia menemukan apa yang dia cari dan bukan tidak mungkin dia berubah dengan cara berpikir dan bersikap. Menjadi lebih dewasa namun tetap semangat dan realistis (tentunya). Bukannya saya mencoba tidak mendukung semua mimpinya. Sangat mendukung. Hanya saja, be wise lah dengan realita yang ada. Dengan modal dan kemampuan yang kita miliki. Seperti orang bijak bicara, kita bisa menjadi besar jika kita melakukan pekerjaan besar atau pekerjaan kecil yang dikerjakan dengan semangat yang besar. Karena tidak mungkin pekerjaan besar dapat dilakukan dengan kesungguhan yang kecil.
Thursday, March 25, 2010
Arti sebuah kepercayaan
Hari itu merupakan hari yang bisa dikatakan buruk buat saya, karena sangat "menampar" kredibilitas dan performa kerja saya. Setelah cukup waktu merenung, apa yang tadinya saya pikir hal ini sangat memalukan diri saya, ternyata dapat menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga. Saya mengucap syukur, ternyata masih dapat berpikir jernih untuk mengambil hikmah di saat semua mempertanyakan sebesar apakah kepercayaan klien dapat saya pertahankan.
Waktu itu perusahaan mendapat audit dari klien dan menemukan hal-hal yang harus segera diperbaiki sesuai dengan standardnya. Sepatutnya perusahaan wajib segera memperbaikinya dan mem-follow up ke klien melalui email. Sesuai dengan batas waktu yang ditentukan saya mengirimkan follow up dan meminta feedback. Terdapat perwakilan klien yang masih sering berkunjung ke perusahaan untuk urusan lain hal, dan secara tak langsung memperingatkan saya soal hasil audit itu. Akan tetapi pada waktu itu saya tidak menyadari bahwa ternyata dia menjadi "mata-mata" bagi klien untuk memastikan seberapa besar kesungguhan perusahaan memperbaiki hasil temuan audit lalu. Dan, kesalahan terbesar saya adalah tidak memastikan dengan benar-benar perbaikan tersebut dan informasi ini sampai ke klien. Saya menyadari ini ketika saya memeriksa email saya, yang sangat membuat deg-deg-an karena saya yakin setelah atasan saya membaca email serupa, pasti akan langsung memanggil dan meminta penjelasan.
Tidak banyak yang atasan sampaikan. Hanya meminta saya untuk lebih bisa menjaga kepercayaan siapapun, yang telah diberikan kepada saya untuk sesuatu hal, seperti halnya beliau mempercayai saya. Apalagi itu adalah kepercayaan dari klien perusahaan. Bedanya, klien tidak bisa langsung memeriksa apa yang perusahaan kerjakan, sedangkan atasan secara langsung dapat memeriksa hasil kerja saya.
Setelah itu, saya kembali ke meja dan merenungkan, bagaimana ini bisa terjadi? Saya berpikir dan berpikir. Akhirnya, saya menyadari setelah mengingat pertemuan audit lalu, auditor klien mengatakan kepada saya untuk memperbaiki temuan audit dalam waktu 1 bulan. Waktu itu, kami (saya dan tim) menyetujui, dan ternyata kami tidak mampu. Sebenarnya bukan tidak mampu, tetapi tidak "mau", karena berpikir bahwa audit hanya diadakan 1 tahun 1 kali dan perbaikan bisa dilakuan seiring berjalan waktu. Sekali lagi saya terlena dengan situasi dan melupakan hal penting dalam prinsip kerja klien & perusahaan, yaitu percaya satu sama lain.
Jika klien tidak percaya kepada perusahaan saya, tidak akan mereka memberi order pekerjaan. Jika orang tidak percaya dengan bank, mereka akan tetap menyimpa uang dibawah bantal. Jika saya tidak percaya dengan seseorang, tidak akan saya jadikan orang itu teman. Itu logika sederhananya.
Ketika kita diberi kepercayaan, peganglah erat kepercayaan itu. Pertahankanlah dan buktikan jika kita memang layak dipercaya. Tidak mudah untuk mendapatkan sebuah kepercayaan, akan tetapi lebih sulit lagi untuk mempertahankannya.
Waktu itu perusahaan mendapat audit dari klien dan menemukan hal-hal yang harus segera diperbaiki sesuai dengan standardnya. Sepatutnya perusahaan wajib segera memperbaikinya dan mem-follow up ke klien melalui email. Sesuai dengan batas waktu yang ditentukan saya mengirimkan follow up dan meminta feedback. Terdapat perwakilan klien yang masih sering berkunjung ke perusahaan untuk urusan lain hal, dan secara tak langsung memperingatkan saya soal hasil audit itu. Akan tetapi pada waktu itu saya tidak menyadari bahwa ternyata dia menjadi "mata-mata" bagi klien untuk memastikan seberapa besar kesungguhan perusahaan memperbaiki hasil temuan audit lalu. Dan, kesalahan terbesar saya adalah tidak memastikan dengan benar-benar perbaikan tersebut dan informasi ini sampai ke klien. Saya menyadari ini ketika saya memeriksa email saya, yang sangat membuat deg-deg-an karena saya yakin setelah atasan saya membaca email serupa, pasti akan langsung memanggil dan meminta penjelasan.
Tidak banyak yang atasan sampaikan. Hanya meminta saya untuk lebih bisa menjaga kepercayaan siapapun, yang telah diberikan kepada saya untuk sesuatu hal, seperti halnya beliau mempercayai saya. Apalagi itu adalah kepercayaan dari klien perusahaan. Bedanya, klien tidak bisa langsung memeriksa apa yang perusahaan kerjakan, sedangkan atasan secara langsung dapat memeriksa hasil kerja saya.
Setelah itu, saya kembali ke meja dan merenungkan, bagaimana ini bisa terjadi? Saya berpikir dan berpikir. Akhirnya, saya menyadari setelah mengingat pertemuan audit lalu, auditor klien mengatakan kepada saya untuk memperbaiki temuan audit dalam waktu 1 bulan. Waktu itu, kami (saya dan tim) menyetujui, dan ternyata kami tidak mampu. Sebenarnya bukan tidak mampu, tetapi tidak "mau", karena berpikir bahwa audit hanya diadakan 1 tahun 1 kali dan perbaikan bisa dilakuan seiring berjalan waktu. Sekali lagi saya terlena dengan situasi dan melupakan hal penting dalam prinsip kerja klien & perusahaan, yaitu percaya satu sama lain.
Jika klien tidak percaya kepada perusahaan saya, tidak akan mereka memberi order pekerjaan. Jika orang tidak percaya dengan bank, mereka akan tetap menyimpa uang dibawah bantal. Jika saya tidak percaya dengan seseorang, tidak akan saya jadikan orang itu teman. Itu logika sederhananya.
Ketika kita diberi kepercayaan, peganglah erat kepercayaan itu. Pertahankanlah dan buktikan jika kita memang layak dipercaya. Tidak mudah untuk mendapatkan sebuah kepercayaan, akan tetapi lebih sulit lagi untuk mempertahankannya.
Tuesday, March 23, 2010
Belum ada judul
Saya tidak tahu harus memberi judul apa pada tulisan perdana kali ini. Ada banyak yang terpikir dalam benak saya, hanya ketika jari-jari ini siap menuliskannya, saya jadi seperti tersihir oleh kebingungan, apa judul tulisan ini.
Kemudian saya berpikir, judulnya bisa menyusul, yang penting saat ini saya hanya ingin mengekspresikan pikiran dan hati melalui tulisan dan semoga dapat menjadi inspirasi bagi rekan-rekan semua.
Posisi dimana saya bekerja adalah mengharuskannya saya untuk berhubungan dengan orang-orang dengan masing-masing personal dan atributnya. Membangun komunikasi yang harmonis adalah kunci dari pekerjaan ini (saya pikir begitu). Ternyata tidaklah mudah untuk berbincang-bincang dengan seseorang dengan latarbelakang yang berbeda dari kita, karena hal itu akan membentuk paradigma dan cara berpikir kita. Cara berpikir tentunya akan membuat kita mengekspresikan dan beragumentasi yang berbeda pula. Hasi akhir dari itu, kita bisa tahu bisa tidak ini orang diajak berkomunikasi?
Kemarin sore adalah salah satu momen dari bagian pekerjaan saya untuk mengetahui kejujuran seseorang. Selama kurang lebih 2 bulan saya mengenal orang ini, saya yakin dengan kejujurannya karena saya mendapatkan referensi dari seorang teman yang juga dapat saya percayai. Dia adalah seorang driver, dengan sejarah kehidupannya yang beragam dan naik turunnya kurva kualitas hidupnya, sampailah ketika dia harus memilih "asal kerja yang penting menghasilkan". Dia pernah mengkritik tentang bagaimana saya bekerja dengan orang-orang di kantor, seolah-olah dia tahu segalanya dan dengan tenang saya ucapkan terima kasih atas kritik dan sarannya. Sedikit kaget, dan shock dengan cara menyampaikannya ke saya, karena disampaikan melalui sms, tidak secara langsung. Dia merasa saya memata-matai dia dan tidak percaya padanya dan tidak suka jika dirinya dicurigai. Saya akui bahwa saya harus memeriksa pekerjaan melalui apa yang saya lihat dan apa yang saya dengar dari pihak lain, di sana dia merasa saya tidak percaya padanya. Tetapi setelah menjelaskan bahwa itu adalah salah satu tugas yang harus saya jalani akhirnya dia dapat mengerti. Meskipun saya tidak yakin, saat itu dia mengerti atau tidak. Dengan usianya yang hampir seusia ayah saya, rasa sungkanlah yang menyelesaikan perbincangan kami waktu itu.
Kemudia, ketika atasan saya menagih kuitansi untuk pembelian bensin mobilnya melalui saya, saya mendapatkan kuitansi dari driver itu dalam keadaan lecek, terlipat, dan dia berasalasan kehujanan dan basah dikantong. Insting saya mengatakan ada yang tidak beres dengan kuitansi ini lalu saya cek ke pom bensin sesuai dengan informasi yang tertera. Dengan mudahnya saya meminta konfirmasi melalui waktu dan nomor transaksi dan saya terkejut ketika ternyata nominal yang disampaikan petugas pom bensin berbeda dengan yang seharusnya, hanya 60% dari total bensin yang seharusnya dibeli. Lebih terkejut lagi pihak pom bensin itu menanyakan maksud dan tujuan saya, mungkin mereka berpikir bahwa saya berlebihan dalam memeriksa kejujuran seseorang. Tapi ini perlu!
Hal ini semacam ini bukan yang pertama, dan efeknya selalu berakhir tidak menyenangkan, pemutusan hubungan kerja, mengundurkan diri seketika, meminta sisa gaji seketika.
Atasan saya yang berasal dari luar, merasakan ketidaknyamanannya dan menurutnya, tidak habis pikir bisa-bisanya dirver tidak jujur dan mengambil uang yang bukan miliknya. Dan dia tidak habis pikir lagi ketika drivernya tidak mengakui kesalahan yang sudah ketangkap basah. Jika kau memang tidak jujur, akuilah itu dan tunjukkan penyesalanmu dengan tanggung jawab. Tetapi kami berhadapan dengan orang yang tidak sama cara berpikirnya dengan kami. Secara tidak langsung driver itu bicara bahwa ini hal biasa dan masalah kecil, biasa terjadi di sini (Indonesia, red).
Saya yang terlibat diantara 2 orang yang berbeda cara berpikirnya, hanya bisa mendengar dan melihat perbincangan tak berujung. Akhirnya masalah itu selesai meski sangat alot.
Setelah itu, saya merasa sedih dan malu dengan atasan, karena secara tidak langsung kejadian tadi menunjukkan mental dan paradigma orang-orang kita di mata mereka sebagai pendatang. Wow, perbedaan latar belakang, keluarga, pendidikan, sangat besar pengaruhnya bagi cara berpikir (mindset). Orang dapat melakukan apa saja demi uang, dan uang dapat membuat orang jadi "buta" dan menyingkirkan jauh nilai sebuah kejujuran.
Ada sebuah pertanyaan dari atasan saya itu, bagaimana bisa mereka seperti itu? Tidak jujur dengan cara yang mudah sekali diketahui, semacam kadal membodohi buaya. Mencoba pintar dengan cara yang bodoh. Saya tidak bisa menjawab. Atasan saya bicara, mereka terlahir dengan situasi yang sedemikian rupa sehingga mereka menjadi tumbuh seperti itu. Kita tidak bisa memilih dimana kita harus dilahirkan. Itulah realitanya. Sungguh beruntung untuk kalian yang dapat menikmati keluarga yang baik, pendidikan yang baik dan teman yang baik.
Kemudian saya berpikir, judulnya bisa menyusul, yang penting saat ini saya hanya ingin mengekspresikan pikiran dan hati melalui tulisan dan semoga dapat menjadi inspirasi bagi rekan-rekan semua.
Posisi dimana saya bekerja adalah mengharuskannya saya untuk berhubungan dengan orang-orang dengan masing-masing personal dan atributnya. Membangun komunikasi yang harmonis adalah kunci dari pekerjaan ini (saya pikir begitu). Ternyata tidaklah mudah untuk berbincang-bincang dengan seseorang dengan latarbelakang yang berbeda dari kita, karena hal itu akan membentuk paradigma dan cara berpikir kita. Cara berpikir tentunya akan membuat kita mengekspresikan dan beragumentasi yang berbeda pula. Hasi akhir dari itu, kita bisa tahu bisa tidak ini orang diajak berkomunikasi?
Kemarin sore adalah salah satu momen dari bagian pekerjaan saya untuk mengetahui kejujuran seseorang. Selama kurang lebih 2 bulan saya mengenal orang ini, saya yakin dengan kejujurannya karena saya mendapatkan referensi dari seorang teman yang juga dapat saya percayai. Dia adalah seorang driver, dengan sejarah kehidupannya yang beragam dan naik turunnya kurva kualitas hidupnya, sampailah ketika dia harus memilih "asal kerja yang penting menghasilkan". Dia pernah mengkritik tentang bagaimana saya bekerja dengan orang-orang di kantor, seolah-olah dia tahu segalanya dan dengan tenang saya ucapkan terima kasih atas kritik dan sarannya. Sedikit kaget, dan shock dengan cara menyampaikannya ke saya, karena disampaikan melalui sms, tidak secara langsung. Dia merasa saya memata-matai dia dan tidak percaya padanya dan tidak suka jika dirinya dicurigai. Saya akui bahwa saya harus memeriksa pekerjaan melalui apa yang saya lihat dan apa yang saya dengar dari pihak lain, di sana dia merasa saya tidak percaya padanya. Tetapi setelah menjelaskan bahwa itu adalah salah satu tugas yang harus saya jalani akhirnya dia dapat mengerti. Meskipun saya tidak yakin, saat itu dia mengerti atau tidak. Dengan usianya yang hampir seusia ayah saya, rasa sungkanlah yang menyelesaikan perbincangan kami waktu itu.
Kemudia, ketika atasan saya menagih kuitansi untuk pembelian bensin mobilnya melalui saya, saya mendapatkan kuitansi dari driver itu dalam keadaan lecek, terlipat, dan dia berasalasan kehujanan dan basah dikantong. Insting saya mengatakan ada yang tidak beres dengan kuitansi ini lalu saya cek ke pom bensin sesuai dengan informasi yang tertera. Dengan mudahnya saya meminta konfirmasi melalui waktu dan nomor transaksi dan saya terkejut ketika ternyata nominal yang disampaikan petugas pom bensin berbeda dengan yang seharusnya, hanya 60% dari total bensin yang seharusnya dibeli. Lebih terkejut lagi pihak pom bensin itu menanyakan maksud dan tujuan saya, mungkin mereka berpikir bahwa saya berlebihan dalam memeriksa kejujuran seseorang. Tapi ini perlu!
Hal ini semacam ini bukan yang pertama, dan efeknya selalu berakhir tidak menyenangkan, pemutusan hubungan kerja, mengundurkan diri seketika, meminta sisa gaji seketika.
Atasan saya yang berasal dari luar, merasakan ketidaknyamanannya dan menurutnya, tidak habis pikir bisa-bisanya dirver tidak jujur dan mengambil uang yang bukan miliknya. Dan dia tidak habis pikir lagi ketika drivernya tidak mengakui kesalahan yang sudah ketangkap basah. Jika kau memang tidak jujur, akuilah itu dan tunjukkan penyesalanmu dengan tanggung jawab. Tetapi kami berhadapan dengan orang yang tidak sama cara berpikirnya dengan kami. Secara tidak langsung driver itu bicara bahwa ini hal biasa dan masalah kecil, biasa terjadi di sini (Indonesia, red).
Saya yang terlibat diantara 2 orang yang berbeda cara berpikirnya, hanya bisa mendengar dan melihat perbincangan tak berujung. Akhirnya masalah itu selesai meski sangat alot.
Setelah itu, saya merasa sedih dan malu dengan atasan, karena secara tidak langsung kejadian tadi menunjukkan mental dan paradigma orang-orang kita di mata mereka sebagai pendatang. Wow, perbedaan latar belakang, keluarga, pendidikan, sangat besar pengaruhnya bagi cara berpikir (mindset). Orang dapat melakukan apa saja demi uang, dan uang dapat membuat orang jadi "buta" dan menyingkirkan jauh nilai sebuah kejujuran.
Ada sebuah pertanyaan dari atasan saya itu, bagaimana bisa mereka seperti itu? Tidak jujur dengan cara yang mudah sekali diketahui, semacam kadal membodohi buaya. Mencoba pintar dengan cara yang bodoh. Saya tidak bisa menjawab. Atasan saya bicara, mereka terlahir dengan situasi yang sedemikian rupa sehingga mereka menjadi tumbuh seperti itu. Kita tidak bisa memilih dimana kita harus dilahirkan. Itulah realitanya. Sungguh beruntung untuk kalian yang dapat menikmati keluarga yang baik, pendidikan yang baik dan teman yang baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)