Monday, August 23, 2010

Repost : Mengapa Kita Tidak Merasa Sedang Melakukan Keburukan?


Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Tidak punya hati. Begitu biasanya kita menyebut orang-orang yang tega melakukan sesuatu yang melampaui batas. Nyaris setiap hari, di televisi dan media masa lainnya kita menyaksikan orang-orang saling berdebat membela diri. Para pengacara ngeyel soal ketidakterlibatan kliennya. Kita sangat jarang mendengar seseorang yang bersalah secara jantan mengatakan;”Benar, saya telah mengambil sesuatu yang bukan hak saya.” Bahkan saat berbohong, keseluruhan bahasa tubuhnya seolah mengatakan bahwa itulah kebenaran yang sesungguhnya. Mengapa bisa begitu ya?

Salah satu mata pelajaran yang saya sukai ketika bersekolah adalah tentang anatomi dan fisiologi tubuh manusia. Khususnya, tentang bagaimana tubuh melakukan metabolisme di tingkat selular sehingga setiap sel didalam tubuh kita bisa hidup. Anda tentu masih ingat bahwa setiap makanan yang kita telan mengalami proses digesti dalam saluran cerna. Setelah dicerna, kemudian saripati makanan masuk ke dalam usus kecil atau intestin. Sedangkan usus 12 jari adalah tempat utama dimana proses penyerapan sari makanan melalui vili-vili terjadi. Sari makanan menembus membran sel vili untuk kemudian dilarutkan dalam darah.

Jika proses itu kita sederhanakan, darah yang sudah berisi sari makanan itu mengalir menuju ke jantung. Lalu jantung berkontraksi hingga darah mengalir sampai ke pembuluh kapiler. Pembuluh darah di perifer ini memiliki kemampuan untuk melepaskan sari-sari makanan dan memberikannya kepada setiap sel yang dilintasinya. Kira-kira mirip dengan tukang koran yang melemparkan korannya ke depan pintu rumah kita. Setelah itu, sel-sel tubuh mengambil sari makanan, lalu dengan bantuan oksigen memetabolismenya. Proses metabolisme menghasilkan enerji untuk beraktivitas atau material lain untuk tumbuh atau regenerasi sel. Sel hasil regenerasi itu akan menjadi matang, sedangkan sel sebelumnya menjadi tua dan mati. Proses ini berjalan terus menerus sehingga sel-sel dalam tubuh kita merupakan hasil dari segala sesuatu yang kita makan.

Jika kita perhatikan, setiap tindakan buruk memiliki ’alasan ekonomi’. Artinya, ada unsur materi yang terlibat. Misalnya, ketika seseorang mencuri, merampok, korupsi atau menipu. Setelah tangan kita mengambil, kemudian kita memakannya. Jadi, setelah tangan, maka organ paling penting yang tercemar berikutnya adalah lidah. Makanya tidak mengherankan jika setelah mengambil sesuatu yang bukan hak kita, maka dosa kita berikutnya adalah ’berbohong’. Mengapa kita berbohong? Karena lidah kita sudah dibentuk dari makanan yang buruk. Makanya, kata-katanya juga menjadi buruk. Semakin banyak kita mengambil, semakin terampil kita berbohong. Semakin sulit untuk mengakui perbuatan buruk kita.

Orang bilang, jika kita punya hati nurani maka tidak mungkin bisa berbohong berkali-kali. Itu benar. Ada yang belum saya ceritakan tentang proses peredaran darah itu. Jika Anda membaca literatur, maka Anda akan tahu bahwa setelah menyerap sari makanan di usus halus, darah yang berisi makanan dari nafkah bukan hak kita itu tidak langsung menuju ke jantung. Tidak langsung menuju ke jantung? Iya. Kemana dong jika demikian? Darah itu terlebih dahulu menuju ke hati. Jadi, hati tidak perlu menunggu kiriman dari hasil pompaan jantung untuk mendapatkan darah yang kaya nutrisi. Artinya, hati adalah organ penting pertama yang dikunjungi darah berisi makanan tak halal itu. Jadi, sel-sel baik dalam hati segera diganti oleh sel-sel baru yang tumbuh dari makanan yang buruk. Oleh sebab itu, setelah lidah kita berdusta; selanjutnya hati mengiringi kebohongan-kebohong an yang kita katakan. Padahal, hati adalah benteng pertahanan terakhir yang bisa menjaga kita dari
perbuatan-perbuatan yang tidak pantas dilakukan.

Bisakah Anda membayangkan apa yang terjadi jika ’benteng terakhir’ penjaga kebaikan dan keluhuran budi itu sudah tercemar juga? Tentunya kita tidak lagi bisa membedakan antara baik dan buruk. Makanya, kita akan merasa benar meskipun tengah melakukan perbuatan nista. Tapi kan tidak semua perbuatan buruk bermuatan ekonomi. Misalnya? Membolos. Mengkhianati pasangan. Berpura-pura sakit kepada atasan. Mengganggu istri orang lain. Dan sebagainya. Tidak ada faktor ekonomi bukan?

Coba perhatikan, biasanya seseorang tidak langsung melakukan perbuatan nista seperti itu. Artinya itu semua itu bukanlah dosa pertama. Dosa pertama manusia biasanya selalu berurusan dengan faktor ekonomi. Jadi mari kita sebut semua hal diatas itu sebagai ’dosa level kedua’. Tanyalah orang-orang yang melakukan tindakan asusila, misalnya; pernahkah dia memakan nafkah tidak halal? Biasanya pernah. Bagaimana melihat kaitan dosa ’level pertama’ dengan dosa ’level kedua’?

Setelah darah berisi nutrisi tidak berkah itu mencapai jantung, dia dipompa ke sekujur tubuh, bukan? Organ penting apa yang dekat dengan Jantung? Paru-paru. Seluruh sel paru-paru diganti dengan sel-sel dari nafkah buruk. Itulah sebabnya, setiap tarikan nafas kita selalu dipengaruhi oleh perilaku buruk. Selama kita bernafas dengan sel-sel buruk itu, selama itu pula kita hidup dengan spirit yang buruk. Jadi, selama hayat masih dikandung badan; kita akan selamanya bernafas dalam keburukan.

Organ penting berikutnya yang dekat ke jantung adalah otak. Tepat ketika darah berisi nutrisi buruk itu menghidupi sel otak, maka pikiran kita pasti cenderung kepada ide dan pemikiran yang buruk. Jangan heran jika setelah sukses melakukan dosa ’level pertama’ kita semakin jago untuk merencanakan dosa di ’level-level berikutnya’. Bukankah otak kita sudah dijejali nutrisi yang buruk? Sebentar dulu, bukankah sel otak itu tidak melakukan regenerasi setelah dia mati? Menurut literatur memang begitu. Tetapi, otak itu bekerja dengan energi yang dihasilkan oleh proses metabolisme nafkah tidak berkah. Makanya, dia sangat sulit menghasilkan pemikiran yang positif dan baik. Otak kita semakin cerdas mencari akal untuk melakukan keburukan-keburukan lainnya.

Guru mengaji saya pernah mengatakan pesan Nabi bahwa keburukan itu kalau baru sampai kepada niat belum dicatat oleh malaikat sebagai maksiat. Baru menjadi dosa jika sudah dilakukan. Jadi aman, bukan? Aman. Tetapi, coba perhatikan. Dari jantung darah bernutrisi laknat itu dikirim ke sel-sel di tangan dan kaki kita. Kulit kita. Mata kita. Hidung kita. Telinga kita. Seluruh sel didalam tubuh kita. Kira-kira, perilaku dan tindakan seperti apa yang akan dilakukan oleh sekujur tubuh kita jika demikian? Pastilah sekujur tubuh kita akan bersekongkol dengan otak yang sudah menjadi kotor itu agar setiap gagasan buruk itu dapat dilaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Jika sudah demikian, kita tidak ubahnya menjadi seperti monster. Tubuh kita saja yang masih berujud manusia, tapi seluruh daleman sel-selnya sudah tidak lagi memiliki sifat manusiawi. Asalnya dari mana? Dari nafkah tidak berkah yang kita makan.

Jadi, sekarang kita mengerti mengapa para pencuri atau ahli korupsi dan pengemplang BLBI bersikeras mengatakan;”Saya tidak melakukannya!” meskipun ada cukup bukti. Karena seluruh sel-sel hidup dalam tubuh yang tumbuh dari nafkah yang buruk tidak memiliki kesadaran lain selain berpikir, barkata, dan bertindak yang buruk-buruk.

Ada orang yang ngotot mengatakan; ”Dosa pertama saya tidak berkaitan dengan faktor ekonomi. Jadi, saya menjadi orang jahat pasti karena Tuhan salah mendisain sel-sel tubuh saya.” Ada yang seperti itu? Ada. Lantas bagaimana caranya kita memahami fenomena itu? Sederhana. Tanyakan kepada Ayah atau Ibu kita; apakah mereka pernah memberi kita makanan dari hasil korupsi, mencuri, menipu atau apapun yang bukan menjadi hak kita? Setiap manusia itu lahir dalam keadaan suci. Namun, jika setelah lahir kita diberi nutrisi oleh orang tua dengan nafkah yang kotor, maka kesucian itu akan segera berganti. Makanya, tidak mengherankan jika sejak kecil pun kita bisa melakukan perbuatan-perbuatan nista. Oleh sebab itu juga, jika kita korupsi, maka anak dan istri kita akan kompak membela kita. Meskipun logika pembelaan mereka sudah terbalik-balik. Pantaslah jika guru mengaji saya mengatakan bahwa Sang Nabi suci mewanti-wanti agar kita memberi anak dan istri nafkah yang
baik.....

Kita tahu bahwa kebenaran tidak bisa bercamur aduk dengan kebatilan. Kabaikan tidak senang berteman dengan keburukan. Ini menjelaskan, mengapa sekujur tubuh kita begitu kompak untuk melakukan kebejatan-kebejatan . Lidah kita terampil berdusta. Mimik wajah kita pandai memasang roman kesungguhan. Dan hati kita, seolah-olah tidak lagi berisi nurani. Karena, sel-sel tubuh yang dibangun dari nutrisi buruk akan dengan suka cita besekongkol dengan gagasan-gagasan buruk, dan tindakan terkutuk. Sebaliknya, beraaaaaaat sekali rasanya untuk berbuat baik. Karena tubuh yang dibangun dengan nafkah yang buruk tidak suka bergaul dengan segala hal yang baik. Persis seperti firman Tuhan melalui Sang Nabi; ”....bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.” Semua itu berasal dari hal sepele; memakan makanan yang bukan hak kita.

Semoga Tuhan berkenan memaafkan dosa-dosa kita dimasa lalu. Dan memberi kita nafkah yang berkah. Setelah nafkah itu berkah, semoga juga jumlahnya melimpah.

Mari Berbagi Semangat!
Sumber : Dadang Kadarusman
www.bukudadang. com dan www.dadangkadarusman.com

Catatan Kaki:
Berpuasa adalah salah satu cara untuk mensucikan sel-sel tubuh kita dari nafkah yang buruk. Karena dalam sahur ada berkah. Dalam buka ada ampunan. Kalau puasanya benar, semoga kita bisa kembali kepada fitrah.

Wednesday, August 18, 2010

Tips Untuk Si Tukang Telat



Apakah Anda termasuk sering telat? Baik ke kantor ataupun janjian dengan teman? Baca ni tips jitu, go on...


Anda pun tidak bisa mengerti mengapa Anda selalu datang terlambat ke kantor atau ke janji dengan si dia. Bahkan Anda sudah mencoba memutar seluruh jam di rumah 15 menit lebih dari yang seharusnya. Rasanya sangat bersalah jika harus mendengarkan keluhan rekan kerja tentang kebiasaan Anda datang terlambat setiap hari. Tak ingin lagi menjadi “Miss Telat”? Ikuti langkah berikut.

Langkah pertama (dan tersulit) yang harus Anda lakukan adalah mengidentifikasi akar permasalahan keterlambatan Anda. Mengapa langkah ini menjadi yang tersulit, karena tak banyak orang yang berani melihat ke dalam dirinya sendiri dan mengakui kelemahannya. Ketika Anda menjadi seseorang yang cukup berani untuk mengakui kelemahan Anda, saat itulah Anda bisa mengambil tindakan untuk mengatasi kelemahan itu. Ada banyak alasan Anda selalu terlambat, namun beberapa alasan yang paling umum adalah;

1. Tidur terlalu larut
Perhatikan kebiasaan Anda di pagi hari. Saat alarm berbunyi, apakah Anda menekan tombol snooze (untuk menambah waktu 5 menit hingga alarm berbunyi kembali)? Atau Anda sengaja menambah waktu tidur hingga sangat dekat waktu berangkat? Ini adalah tanda-tanda Anda kekurangan tidur. Ada baiknya Anda mempercepat jam tidur. Kebanyakan orang, khususnya yang bekerja dan aktif, tak mendapatkan waktu tidur yang cukup, kekurangan tidur bisa jadi penyebab seseorang kurang bahagia dan tidak sehat. Cobalah untuk tidur lebih cepat setiap malam selama seminggu, lihat perbedaannya pada tubuh dan perasaan Anda.

2. Tambah satu
Mungkin terdengar tak umum, tapi kebiasaan menunda pekerjaan atau tugas hingga sebelum berangkat bisa menjadi penyebab keterlambatan Anda. Misal, sebelum berangkat, Anda menyempatkan diri membalas satu surat elektronik dulu, atau membawa keranjang baju kotor ke dekat mesin cuci, atau hal-hal yang terlihat sepele lainnya. Cara mengatasinya, cobalah untuk mengingatkan diri dan membagi hal-hal yang bisa Anda kerjakan dari kantor (membaca surat elektronik) dan yang harus dikerjakan di rumah. Usahakan untuk berangkat lebih awal. Katakan pada diri Anda, bahwa Anda harus tiba di kantor baru boleh membaca surat elektronik itu.

3. Menyepelekan waktu perjalanan
Mungkin memang hanya butuh 20 menit untuk berangkat ke kantor, itu pun jika jalanan kosong. Anda belum memperhitungkan penghambat perjalanan yang bisa datang tak terduga. Misal, ada pohon tumbang di tengah jalan, sehingga mobil Anda terjebak macet, atau kereta api sedang mengalami gangguan teknis. Kejadian-kejadian bisa saja terjadi di luar dugaan. Karenanya, supaya tidak lagi mendapatkan cap “Miss Telat”, Anda bisa memastikan untuk berangkat lebih cepat, atau menetapkan menit ke berapa Anda harus berangkat. Misal, perjalanan ke kantor butuh waktu 20 menit, jam masuk adalah pukul 08.00, jam paling telat Anda berangkat adalah 07.20. Jangan kompromi lagi. Waktu yang tersisa di kantor bisa Anda gunakan untuk menyiapkan mood atau sekadar menyeruput teh.

4. Kurang persiapan
Mencari benda-benda penting di pagi hari bisa menghabiskan waktu Anda. Cobalah untuk menyiapkan wadah untuk benda-benda penting itu, dan pastikan Anda selalu menyimpan barang-barang tersebut di situ. Contohnya, kunci, dompet, telepon, kaca mata, dan lainnya. Salah satu hal yang mengganggu lainnya adalah kurang persiapan dalam penampilan. Supaya di pagi hari tidak terburu-buru saat mencari celana hitam yang sepadan dengan atasan Anda, atau mencari sepatu yang warnanya senada dengan tas Anda, siapkanlah pakaian yang mau Anda kenakan di malam sebelumnya.

5. Bukan Anda, tapi mereka
Anda merasa sudah menyiapkan segalanya di pagi hari. Anda sudah siap berangkat, tapi anak dan suami masih saja mencari barang-barang mereka, padahal butuh 30 menit perjalanan, dan sekarang sudah saatnya berangkat. Meski sulit untuk memacu diri supaya lebih disiplin, tapi lebih sulit lagi untuk membuat orang lain untuk juga disiplin. Yang bisa Anda lakukan adalah mengajar si kecil, dan mengajak suami untuk menata barang-barang mereka di titik-titik tertentu. Ajar mereka untuk menyiapkan pakaian mereka sendiri pada malam hari sebelumnya. Siapkan bekal makan siang lebih pagi lagi, atau susun menunya berhari-hari sebelumnya supaya tidak beradu pilihan di pagi hari.

6. Anda tak suka tempat tujuan
Perasaan tak mau berangkat ke kantor, atau mencari-cari alasan agar tidak usah masuk adalah salah satu ciri Anda tidak betah di tempat itu. Bermalas-malasan, mengulur waktu, atau mencari celah agar tidak usah ke kantor merupakan sebuah sinyal dari tubuh Anda untuk melepaskan diri dari tempat itu. Mungkin sudah saatnya mencari tempat baru?

7. Pihak lain
Anda sedang dalam rapat internal mingguan, tapi presentasi rekan Anda terasa lamban, padahal Anda seharusnya presentasi ke klien di tempat lain. Kadang hal semacam ini tidak bisa dihindari, namun kenalilah masalahnya. Apakah rapat internal mingguan selalu bertele-tele dan melebar hingga satu jam padahal bahasannya tidak terlalu banyak? Apakah ada satu orang yang selalu membuat rapat jadi lama? Jika Anda menghadapi masalah ini berulang-ulang, identifikasikanlah permasalahannya. Ketika sudah diketahui penyebabnya, Anda bisa membangun strategi untuk mengatasinya. Misal, Anda yang pimpin rapatnya, jadi moderator topik perbincangan agar tidak melebar dan tetap fokus.

sumber : www.kompas.com

Atasi Karyawan Telat

Anak buah yang acapkali telat dan tidak disiplin mungkin salah satu masalah klasik yang sering Anda hadapi sebagai seorang pemimpin. Saat semua karyawan telah memulai aktifitas mereka masing-masing di kantor, "si biang telat" baru saja menunjukkan batang hidungnya. Macet, hujan, kesiangan adalah beberapa alasan yang sering dipakai. Terdengar meyakinkan tapi kenyataannya banyak karyawan lain yang juga menghadapi masalah yang sama tidak terlambat datang ke kantor.

Berulang kali teguran dan peringatan dilayangkan, namun umumnya perubahan hanya terjadi di beberapa hari pertama. Setelah itu, sang karyawan raja telat kembali ke kebiasaan lamanya. Memusingkan bukan ?


Datang telat memang bukan masalah yang sangat penting jika dibandingkan dengan masalah yang lain seperti karyawan yang menggelapkan uang, atau menjual rahasia perusahaan. Tapi masalah menjengkelkan ini bisa membuat manajemen frustasi dan mempengaruhi produktifitas perusahaan dan kinerja karyawan lainnya. Bahkan di perusahaan retail, jasa serta manufakturing, keterlambatan karyawan bisa memberikan pengaruh cukup besar bagi produktifitas perusahaan.

Walaupun masalah ini sangat menjengkelkan, Anda tidak disarankan menghadapinya dengan kepala panas dan segera memecat karyawan tukang telat ini. Pertahankan coolness dan kontrol kemarahan Anda. Yang perlu Anda lakukan adalah menyingkirkan kebiasaan telat karyawan tersebut, bukan menyingkirkan karyawan Anda. Ikuti langkah-langkah berikut ini!

1. Tanyakan segera penyebab keterlambatan karyawan tersebut setiap kali ia terlambat.
Buat daftar yang memuat data detail seperti tanggal, jam dan penyebabnya. Karyawan yang telat harus mengetahui bahwa keterlambatan mereka diperhatikan perusahaan.

2. Adakan pertemuan dengan yang karyawan tersebut.
Lalu heart to heart dan berbekal data keterlambatan mereka, jelaskan akibatnya bagi perusahaan dan karyawan lainnya. Sebelum menyampaikan konsekuensi yang didapatkan, tawarkan solusi dengan melibatkan karyawan. Kesepakatan yang diambil tentu saja harus menguntungkan kedua belah pihak.

3. Buat kesepakatan tertulis yang disetujui dan ditandatangani kedua belah pihak.
Pastikan bahwa karyawan tersebut memahami konsekuensi yang akan ia terima jika melanggar kesepakatan bersama.

4. Monitor perkembangan karyawan tersebut
Kesan yang harus ditampilkan adalah bahwa perusahaan konsisten dengan kesepakatan yang telah dicapai dan mengharapkan karyawan tersebut juga bersikap sama.

5. Jika selama proses monitoring karyawan tersebut tidak menunjukkan perubahan atau perbaikan, jangan ragu untuk menerapkan konsekuensi terberat yaitu pemutusan hubungan kerja.
Standar dan peraturan perusahaan tidak akan berfungsi efektif jika Anda sebagai pemimpin tidak konsisten.

Remember! :
Musuh Anda adalah kebiasaan buruk karyawan Anda, bukan karyawan Anda.

sumber www.jobsdb.co.id

Friday, July 30, 2010

Lama Tak Jumpa

Lama tak jumpa blog maksudnya. Dua bulan lebih tak mengisi dengan ide kreatif dan komentar suatu fenomena yang sedang booming saat ini.

Ada banyak hal terjadi. Mulai dari kasus Bank Century yang tak kunjung berujung, tambah lagi kasus video seleb, tabung gas elpiji yang sering meledak akhir2 ini dan anggota dewan yang suka "bolos" sidang. Hampir semua media bercerita sisi negatif saja, yang secara tak sadar membimbing pemirsanya untuk berprasanka negatif terhadap seorang atau sekelompok figur.

Terakhir pagi ini, ada berita tentang seorang artis senior yang mencoret gedung perwakilan rakyat dengan kata tegas, adil & jujur. Dan itu dilakukannya atas akumulasi kekecewaan yang tak kunjung bertemu dengan harapannya. Saya yakin itu pula yang dirasakan oleh banyak orang di negeri ini.

"Hmm....never ending story when you talk about this country. Everything is fucked-up. Always problem, but no solution". Tergelitik oleh pendapat salah satu bos saya di kantor yang berasal dari negara seberang sana, yang tak pernah dapat mengerti segala sesuatu yang sering terjadi di negara ini. Awalnya dia menganggap Indonesia seperti layaknya turis kebanyakan yang datang, adalah negeri yang ramah, indah, dll. Setelah 6 bulan berada di sini, akhirnya dia menemukan realitanya. Yah, seperti itulah komentarnya. Terlepas dari itu komentar untuk kehidupan politik maupun kehidupan senyatanya di sini.

Yah, faktanya seperti banyak kasus dan pemberitaan yang kesannya tak pernah ada akhir dan solusi yang jelas. Tegas, adil & jujur. Ada masalah ini itu, tak jarang dihadapi dengan gaya tegas, tapi jadi mlorot karena sesuatu hal. Perlakuan yang tak adil pun diterapkan, entah yang mana yang menjadi korban sebenarnya, atau pelaku yang semu yang hanya menginginkan tujuan kuasa semata. Informasi yang tidak jujur dikemukakan dengan kuatnya, hingga terkesan adu kekuasaan di media. Itu hal biasa.

Friday, April 23, 2010

Lebih Waspada kepada yang namanya "agen"

Agen apapun itu pasti sudah banyak sekali di sekitar kita. Mulai dari agen PRT, tiket bis, pesawat, kapal, makelar produk sampai pengurusan dokumen seperti KTP, SIM, STNK, BPKB, akte kelahiran, peijinan rumah, perusahaan dll . Untuk agen yang bekerja memproses dokumen milik pribadi biasanya hanya berupa agen yang bersifat invidual dengan kata lain "calo". Sedangkan untuk yang kelasnya perusahaan bisa dalam bentuk badan atau lembaga resmi. Seringkali di sini ketemu dengan orang yang kerjaan sambilannya ngurusin dokumen seperti notaris atau pegawai pemerintah yang mendirikan sebuah agen resmi. Yah, apapun istilahnya pada dasarnya agen itu produknya adalah jasa. Untuk mendapatkan jasa dari orang lain, agen harus pintar dulu merayu si orang itu untuk menggunakan jasa mereka. Tidak heran jika sepertinya lebih banyak pegawai agen yang perempuan daripada laki-laki, karena lebih "luwes" katanya.
Kenapa sih saya repot-repot menulis soal agen di sini? Terus terang, jadi sensi banget kalo dengar kata "agen". Karena baru-baru ini saya "dikerjai" agen untuk mengurus dokumen perijinan tenaga kerja asing (visa telex). Agen ini referensi dari manager saya yang sudah mengenalnya selama kurang lebih 7 tahun, meskipun bekerja jarak jauh Semarang-Jakarta, ini agen bisa dihandalkan dan dipercaya. Tetapi tidak untuk tahun ini. Proses 3 macam dokumen bisa diselesaikan dalam waktu 3-4 minggu, tapi sampai minggu keenam belum juga ada kabar darinya. Sangat sulit dihubungi mulai dari telpon, sms, email, dan akhirnya sampai saya harus mengecek sendiri di kantor dinas jakarta. Sayang, jawaban yang tidak memuaskan didapat. Malah ditawari jasa oleh petugas yang menjawab telpon saya.
Dengan kondisi yang serba dateline, karena TKA itu harus segera berangkat ke singapore, persiapan tiket, hotel, pengurusan visa di kedutaan, hampir putus asa rasanya karena tidak mendapat kabar dari agen. Apakah saya harus menyusul ke jakarta atau buat perpanjangan visa selama di Semarang? Jawabannya ternyata saya mendapat telpon dai dirjen imigrasi Jakarta yang mengabarkan bahwa visa telex sudah selesai dan bisa diambil. Kami berbincang-bincang sejenak tentang keadaan antara saya dan agen itu, dan dari petugas itu dapat informasi baru bahwa saya bukanlah korban yang pertama. Perusahaan juga sudah membayar tagihan dokumen itu ke agen dan pihak dirjen imigrasi belum menerimanya. Modus seperti itu rupanya yang si agen ini kerjakan. Hanya submit dokumen dan meninggalkannya begitu saja. Mau tak mau perusahaan yang memakai jasa si agen harus turun lapangan sendiri dan membayar lagi keperluan administrasinya.
Saat itu saya hanya merasa kecewa, jengkel tetapi agen ini tidak pernah saya bisa hubungi. Bagaimana bisa dia mempermainkan dan mempertaruhkan kepercayaan pelanggannya dengan cara seperti ini? Tidak banyak uang yang dilarikannya, tetapi kepercayaan yang besar itulah yang telah dia rusak sendiri.
Berhati-hatilah bekerja sama dengan agen. Yakinkan benar bahwa agen itu bisa dipercaya. Dapatkan referensi dari perusahaan besar yang menggunakan jasa yang sama, karena ini pertanda bahwa mereka melayani dengan profesional. Hati-hati dengan agen yang sifatnya perorangan. Susah dilacak jika sudah hilang kontak.
Untuk bapak agen, saya yakin kepercayaan pelanggan yang telah bapak dapatkan selama ini tentunya tidaklah mudah. Bapak harus berjuang keras mendapatkan kepercayaan itu dan berjuang keras untuk mempertahankannya agar kami sebagai pelanggan selalu mencari bapak untuk menggunakan jasa agensi bapak. Mengapa bapak harus kehilangan kepercayaan ini? Bukankah kepercayaan itu modal utama untuk melanjutkan bisnis yang menjual jasa? ...

Thursday, April 08, 2010

Menulis di atas pasir

Re-posted dari blog lain.
Terima kasih inspirasinya dan semoga bermanfaat.

Posted by: "Mohamad Yunus" yunus@widatra.com
Wed Apr 7, 2010 9:40 pm (PDT)



Ini adalah sebuah kisah tentang dua orang suami istri yang sedang berjalan melintasi gurun pasir.

Dî tengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras.....

Istri yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis ϑî atas pasir :

HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi.

Si Istri, mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan suaminya. Ketika dia

mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis dî sebuah batu :

HARI INI SUAMIKU YG BAIK MENYELAMATKAN NYAWAKU

Suami bertanya : “kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya dî atas pasir dan sekarang

kamu menulis dî atas batu ?”

Istrinya sambil tersenyum menjawab :

“Ketika hal buruk tjd, kita harus menulisnya dî atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan

menghapus tulisan itu..

Dan bila sesuatu yang luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya dî atas batu hatiku, agar

tidak bisa hilang tertiup angin.

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Terkadang

malah sangaatt menyakitkan, Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.

Yang terpenting dr pelajaran dî atas, adalah : Belajarlah untuk selalu BISA MENULIS DI ATAS PASIR

untuk semua hal yang menyakitkan dan selalu MENGUKIR DI ATAS BATU untuk semua KEBAIKAN ....

Semoga kita semua mengerti betapa berharganya sebuah " KELUARGA" :)

Apa Kata Dunia...

Duh. Gemes rasanya kalau ingat iklan ini. Iklan yang menayangkan bahwa jika hari gini ga bayar pajak, apa kata dunia... Tetapi setelah terungkap dengan kasus penggelapan uang pajak dan restitusi pajak dari salah satu seorang pegawai pajak, bukan main kecewanya. Tidak hanya kecewa, tetapi juga marah. Marah yang besar. Bagaimana bisa hal seorang pegawai pajak malah mengkorupsi pajak??? Apa kata dunia....?
Biasa? Iya, hal ini dikatakan adalah hal biasa yang dilakukan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab. Bahkan nilai nominalnya pun berkali lipat daripada jumlah yang terungkap. Wow...
Dari sini, dapat kita pelajari bahwa sistem pengawasan internal di kantor pajak tidak seketat pengawasannya kepada wajib pajak. Jika tidak bayar pajak, wajib pajak kena denda. Lalu bagaimana dengan petugas pajak sendiri? Wajib pulakah mereka melapor kekayaan dan "bayar pajak"? Lalu, bagaimana dengan ganjaran buat mereka yang saat ini ketahuan menggelapkan pajak? Berapa milyar uang yang mereka "ambil" dari pihak yang semestinya dapat menerima dan menggunakan uang itu demi menyambung hidup mereka?
Masih banyak yang harus kita benahi, tetapi yang paling penting adalah benahi diri, jasmani dan rohani, jiwa raga, pikiran dan perasaan. Sifat tamak, rakus, greedy telah menguasai mereka untuk memuaskan nafsu hedonis. Sekali coba, pasti ketagihan. Tetapi, hidup mereka tidak akan pernah tenteram. Batin dan jiwa mereka akan selalu mengenang dan mengenang perbuatan mereka dan selalu berpikir bagaimana caranya menyembunyikan sumber kegelisahan sepanjang hidupnya. Sungguh kejam. Tapi itu layak mereka dapatkan. Sempat terdengar selentingan orang berbicara ketika saya sedang dalam perjalanan ke Solo, bahwa kalangan rakyat biasa sibuk memikirkan bagaimana cara menyambung hidup di kemudian hari. Dan para "maling" uang rakyat sibuk sembunyi dan berdiam diri, menunggu ketakutan mereka terealisasi dengan baik. Sungguh lelah pastinya.
Dan saya pikir, mereka ada benarnya. Apa kata dunia...